Rabu, 09 Januari 2019

Industri Olahraga dari Manajemen Event



A. Latar Belakang
            U U No 3 / 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, Pasal 1, ayat 18. Industri Olahraga adalah Kegiatan Bisnis Bidang Olahraga dalam Bentuk Barang dan Jasa. Sport marketing adalah penerapan spesifik prinsip dan proses pemasaran kepada produk olahraga dan untuk memasarkan produk nirlaba olahraga melalui asosiasi dengan olahraga. Industri olahraga merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan ekonomi suatau negara. Di berbagai negara industri maju dan modern seperti di Amerika, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Korea dan China, olahraga telah menjadi industri unggulan sebagai pemasok devisa negara. Selain itu olahraga juga dirancang sebagai industri modern berskala global. Dalam membangun karakter bangsa, olahraga sudah menjadi identitas industri yang memiliki nilai tambah yang signifikan. Di Indonesia perkembangan industri olahraga masih memerlukan peran serta dari masyarakat dalam mewujudkan olahraga yang berprestasi dengan dukungan industri olahraga dalam negeri.
Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga melalui Deputi Bidang Kewirausahaan Pemuda dan Industri Olahraga sebagai lembaga pengembang industri olahraga di Indonesia telah mencanakan suatu gagasan untuk mengembangkan industri olahraga sebagai industri kreatif yang berdaya saing tinggi dalam percaturan globalisasi. Langkah-langkah koordinasi dengan berbagai stakeholder telah ditempuh, kini Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga melalui Deputi Bidang Kewirausahaan Pemuda dan Industri Olahraga mencoba melangkah lebih jauh dalam rangka mengembangkan industri olahraga di Indonesia. Salah satu langkah penting yang sangat mendesak untuk diimplementasikan adalah melakukan identifikasi dan pembinaan sentra-sentra industri olahraga yang telah ada dan mengembangkan berbagai pusat peralatan olahraga yang dapat diakses oleh masyarakat dengan mudah.
Text Box: 1Olahraga di negeri tercinta masih tersendat-sendat dalam prestasi. Hal ini diyakini karena kurangnya fasilitas dan program pendidikan yang baik. Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia khususnya Bidang Pengembangan Industri Olahraga melihatnya, Indonesia sudah harus melakukan industrialisasi olahraga sebagai salah satu cara menanggulangi masalah tersebut. Sekaligus, ketertarikan negara-negara barat dan Amerika Serikat untuk berinvestasi dalam bidang olahraga di Asia merupakan moment tepat untuk mengembangkan industrialisasi olahraga (Ibnu, 2011: 1).
Mengapa? melalui industrialisasi olahraga maka, fasilitas-fasilitas dan event-event olahraga akan meningkat sehingga kualitas atlet juga terasah. Peningkatan ini didapat dari investor-investor olahraga.
            Dalam penjelasan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, (2008: 30-31) telah diuraikan bahwa Usaha Mikro, Kecil dan Menengah merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat, dan dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional. Namun demikian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah masih menghadapai berbagai hambatan dan kendala, terutama dalam hal produksi dan pengolahan, pemasaran, sumber daya manusia, desain dan teknologi, permodalan, serta iklim usaha.
Kendala dan hambatan tersebut tentu saja juga dirasakan pada pelaku usaha industri olahraga, yang pada umumnya ”bermain” disegmen usaha mikro. Kemajuan industri mikro olahraga memiliki nilai strategis karena terkait dengan upaya pemberdayaan ekonomi rakyat kecil dan merupakan bagian dari upaya pengentasan kemiskinan. Iklim usaha yang kondusif di sektor industri olahraga juga menjadi indikator bahwa pembangunan olahraga sebenarnya memiliki dampak pengiring yang sangat luas. Dampak tersebut tidak sekadar dibatasi pada komunitas olahraga, tetapi juga pada masyarakat secara luas, terkait dengan persoalan kesejahteraan sosial.
            Pengembangan industri olahraga, khususnya pariwisata olahraga perlu mendapat perhatian yang serius agar mampu menciptakan suatu masyarakat yang maju dan lebih bersifat transformatif yaitu masyarakat maju baik secara struktual maupun kultrual. Dimensi structural tercermin pada upaya mengubah masyarakat yang dulu bersifat agraris menjadi masyarakat industri yang ditopang pada dua kekuatan pokok yaitu industri yang kuat didukung oleh pertanian yang tangguh mencakup penguasaan teknologi serta mempunyai daya saing yang kuat dalam memasuki pasaran global. Sedangkan dimensi kultural tercermin pada nilai-nilai baru yang berkembang dan sangat bermanfaat dalam menopang terbentuknya suatu masyarakat industri olahraga yaitu menyangkut sikap, tingkah laku rasional masyarakat, sadar kesehatan, dan kompetitif (Farida M., 2011: 2).
   Industrialisasi olahraga dalam pembangunan ekonomi dapat dilihat dalam kerangka pemikiran dan pola pendekatan yang dikembangkan Masyur Wiratmo (1992) yang mengatakan bahwa negara yang sedang berkembang yakin, bahwa industrialisasi diperlukan agar negaranya bisa tumbuh dan berkembang secara cepat. Sebab dalam proses industrialisasi itu biasanya akan dibarengi dengan percepatan kemajuan teknologi, proses pelatihan sumber daya manusia dan kemudian peningkatan produktifitas, (dan dengan demikian juga upah riil dan pendapatan meningkat) dibandingkan kalau hanya mengandalkan sektor pertanian.
Industri olahraga didefinisikan oleh Pitts, Fielding dan Miller sebagai “semua produksi barang, jasa, tempat, orang-orang, dan pemikiran yang ditawarkan kepada pelanggan, yang berkaitan dengan olahraga. (Pitts, Fielding, and Miller, 1994).Ozanian mengatakan bahwa; “Olahraga tidak hanya bisnis besar saja. Olahraga adalah salah satu dari industri yang tercepat bertumbuh-kembangnya di Amerika, dan adalah yang jalin menjalin dengan setiap aspek ekonomi – dari media dan pakaian sampai pada makanan dan periklanan ............. olahraga ada dimana-mana, dibarengi dengan suatu bunyi dering mesin kasir uang yang tak putus-putusnya” (Onzanian, 1995). Klasifikasi Industri: (1) Pertanian, kehutanan dan perikanan; (2) Industri tambang; (3) Industri kepabrikan (manufacturing); (4) Industri konstruksi; (5) Industri transportasi, komunikasi; (6) Industri perdagangan (trade); (7) Industri finance (perbank-an); (8) Industri jasa (service); (9) Industri pemerintah (Encyclopedia Americana, 1975).
   Sejalan dengan peningkatan derap industri, nilai produksi terus menunjukkan peningkatan. Peningkatan nilai produksi ini dimungkinkan oleh adanya peningkatan daya saing produk-produk industri olahraga. Peningkatan daya saing tersebut tentunya disertai adanya peningkatan daya beli masyarakat dan pencapaian prestasi melalui produk-produk industri olahraga terutama dalam menembus pasaran internasional.
Untuk menembus pasaran tersebut perlu terobosan baru. Dan untuk merangsang para wisatawan dalam pengembangan diri, dan menghadapi era perdagangan bebas, maka Pemerintah Daerah sangat diharapkan sebagai motivator untuk memberikan berbagai kemudahan. Pemerintah dapat memberi kemudahan administrasi maupun kebijakan-kebijakan yang langsung dapat menunjang perkembangan industri olahraga.
  


BAB II
PEMBAHASAN
A. Industri Olahraga
1.      Industri Olahraga
Industri olahraga didefinisikan oleh Pitts, Fielding dan Miller (1994) adalah “semua produksi barang, jasa, tempat, orang-orang dan pemikiran yang ditawarkan kepada pelanggan, yang berkaitan dengan olahraga. Menurut Pitts; Fielding, and Miller (1994) industri olahraga adalah “setiap produk, barang, servis, tempat, orang-orang dengan pemikiran yang ditawarkan pada publik berkaitan dengan olahraga. Dikutip dari pernyataan Nuryadi (2010: 10); Sport Industry adalah sebuah industri yang menciptakan nilai tambah dengan memproduksi dan menyediakan olahraga yang berkaitan dengan peralatan dan layanan. U U No 3 / 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, Pasal 1, ayat 18. Industri Olahraga adalah Kegiatan Bisnis Bidang Olahraga dalam Bentuk Barang dan Jasa. Sport marketing adalah penerapan spesifik prinsip dan proses pemasaran kepada produk olahraga dan untuk memasarkan produk nirlaba olahraga melalui asosiasi dengan olahraga.
Jika kita mengamati profil usaha industri olahraga di Indonesia, mereka dalam operasionalnya menghadapi masalah pokok:
1.      Masalah permodalan. Untuk masalah modal para pengusaha dalam menjalankan usahanya belum mengenal dan memanfaatkan lembaga perbankan. Selain itu para pengusaha industri olahraga (kecil) sulit untuk memperoleh kredit dari bank swasta.
2.      Lemah dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar. Umumnya usaha industri olahraga memperoleh pasar dengan cara-cara pasif. Mereka mengandalkan kekuatan promosi personel selling yaitu komunikasi antar personal.
3.      Text Box: 5Keterbatasan pemanfaatan dan penguasaan teknologi. Hal ini disebabkan karena lemahnya sumber daya manusia dalam menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi.
4.      Masalah strategi pemasaran produk merupakan salah satu kendala besar bagi industri olahraga yang kecil untuk masuk pasar bebas. Seringkali pemasaran produk industri olahraga kecil harus melalui mata rantai.
5.      Lemah dalam jaringan usaha dan kerja sama usaha.
6.      Kelemahan dalam mentalitas usaha dan kewirausahaan. Umumnya industri olahraga yang masih kecil sedikit sekali yang memiliki kreatifitas dan inovasi, kemandirian dan semangat untuk maju.

Kondisi industri olahraga yang masih kecil sebagaimana disebutkan di atas tentu saja sangat bertentangan dengan tuntutan arus pasar bebas. Pasar bebas menuntut bisnis olahraga sekalipun kecil haruslah tangguh, mandiri, dinamis, efisien, dan mampu membeikan produk yang berkualitas dan pelayanan yang memuaskan. Untuk memperbaiki profil industri olahraga Indonesia dengan berbagai masalah dan kelemahannya tersebut maka sangat dibutuhkan proses pemberdayaan usaha industri olahraga. Pemberdayaan tersebut haruslah menyentuh langsung pada keenam kelemahan di atas.

2.  Pola Pengembangan Industri Olahraga
Sebelum kita beranjak membicarakan tentang hal tersebut diatas, ada baiknya kita cermati tiga pola yang berkaitan dengan tumbuh kernbangnya industri olahraga dibawah ini: a) di Indonesia terdapat adanya potensi pelaku olahraga dan berbagai ruang lingkup/dimensi keolahragaan yang besar. Ini merupakan salah satu keberhasilan program pemerintah untuk memasyarakatkan olahraga, b) terdapat tiga areal sellor bidang garapan yaitu olahraga pendidikan, olahraga rekreasi dan olahraga prestasi, dan c) Besarnya peluang tumbuh kembangnya industri di bidang olahraga. Dari ketiga area bidang garapan tersebut diatas, maka industri olahraga dapat menembus di berbagai segmen pasar.
Disamping memilih dan melakukan berbagai pendekatan untuk kesuksesan dalam bisnis olahraga, kiranya juga perlu dibangun sebuah komunikasi yang baik dengan berbagai pihak. Dengan komunikasi mampu memecahkan adanya sebuah konflik, sehingga akan didapatkan konsep solusi yang lebih berkualitas, meskipun akan ada sebuah perubahan, namun perubahan tersebut mengarah ke yang lebih baik serta memberi dampak kepada kemajuan bersama.
Industri olahraga memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Perhatian terus-menerus pada bisnis.
2.      Merupakan bagian atau cabang bisnis.
3.      Sesuatu yang mempekerjakan banyak tenaga kerja dan modal, yang merupakan kegiatan yang nyata dari perdagangan (Webs1er’s New Collegiate Dictionary)
Segmen industri olahraga sesuai dengan tipe produknya rnenurut Parks, Zanger and Ouarterman,(1998) terdapat tiga segment yaitu:
a.       Sport performance / penampilan olahraga, Segmen ini bermacam - macam produk. seperti olahraga sekolah, perkumpulan kebugaran, camp olahraga, olahraga professional, dan taman olahraga kota.
b.      Sport Production / produksi olahraga, Segmen produksi olahraga ini dapat diberikan contoh seperti bola basket, bola tennis, sepatu olahraga, kolam renang, serta perlengkapan olahraga lainnya,
c.       Sport Promotion / Promosi Olahraga. Segmen ini dapat berupa barang dagangan seperti kaos, atau baju yang berlogo, media cetak dan elektronika, sport marketing agency, sport event organizer.

3.   Penguatan Sistem Pembangunan Keolahragaan

1.      Pembangunan olahraga diarahkan:
a.       Mengembangkan kebijakan dan manajemen penyusunan dan perencanaan program olahraga dalam upaya mewujudkan penataan sistem pembinaan dan pengembangan olahraga secara terpadu dan berkelanjutan;
b.      Meningkatkan akses dan partisipasi masyarakat secara lebih luas dan merata untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani serta membentuk watak bangsa, sekaligus membangun konsepsi budaya olahraga di kalangan masyarakat ;
c.       Meningkatkan sarana dan prasarana olahraga yang sudah tersedia untuk mendukung pembinaan olahraga;
d.      Meningkatkan upaya pembibitan dan pengembangan prestasi olahraga secara sistematik, berjenjang dan berkelanjutan;
e.       Meningkatkan pola kemitraan dan kewirausahaan dalam upaya menggali potensi ekonomi olahraga melalui pengembangan industri olahraga;
f.       Mengembangkan sistem penghargaan dan meningkatkan kesejahteraan atlet, pelatih, dan tenaga keolahragaan.
2.      Tujuan program penguatan sistem pembangunan keolahragaan untuk mewujudkan keserasian berbagai kebijakan keolahragaan. Kegiatan pokok yang dilakukan :
a.       Pemetaan dan pendataan potensi Keolahragaan Kabupaten/kota se Indonesia;
b.      Pengkajian kebijakan-kebijakan pembangunan di bidang Olahraga;
c.       Pengembangan kemitraan pemerintah dengan masyarakat dalam pembangunan keolahragaan;
d.      Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan olahraga.

4.  Strategi Pengembangan Industri Olahraga
Didalam pembangunan industri olahraga di Indonesia perlu kiranya re-orientasi program, beberapa hal tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Pengembangan budaya olahraga
Budaya olahraga merupakan landasan utama dalam pembangunan olahraga nasional. Budaya olahraga merupakan sikap dan kebiasaan masyarakat untuk senang berolahraga dan menjadikan olahraga sebagai gaya hidup sehat. Pengembangan budaya olahraga ini dapat dimulai dari lingkup individu dan keluarga dengan cara memberikan apresiasi terhadap makna dan manfaat olahraga bagi peningkatan kesehatan dan kualitas hidup.
2.      Persaingan olahraga regional dan internasional
Prestasi olahraga nasional terus merosot di tingkat regional dan internasional. Kondisi ini disebabkan lemahnya daya saing olahraga nasional dibandingkan dengan negara-negara lain. Kebangkitan kekuatan baru dalam olahraga, baik di tingkat ASEAN, Asia, maupun dunia sangat berpengaruh terhadap posisi kekuatan olahraga Indonesia. Perkembangan olahraga di Thailand, Malaysia, China, dan beberapa negara pecahan Uni Soviet merupakan kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi keputusan pembinaan olahraga pada umumnya di Indonesia.

3.      Manajemen olahraga nasional
Pendekatan integratif dalam penetapan kebijakan yang memungkinkan pembinaan dan pengembangan olahraga nasional secara harmonis, terpadu dan jangka panjang yang didukung dengan sistem pendanaan dengan prinsip kecukupan dan keberkelanjutan merupakan hal yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan pembangunan olahraga.
4.      Sarana prasarana olahraga serta penerapan riset dan Iptek
Penerapan Iptek dalam pembinaan olahraga baik untuk meningkatan mutu proses belajar-mengajar maupun pelatihan merupakan sebuah keniscayaan. Mutu proses menjamin tercapainya hasil belajar dan prestasi olahraga yang ditargetkan. Sulit dibayangkan pencapaian hasil belajar atau prestasi tinggi tanpa pemanfaatan Iptek. Tersedianya dukungan Iptek termasuk sarana laboratorium pengajaran dan pelatihan olahraga sangat diperlukan dalam upaya peningkatan prestasi. Sebagai contoh, keberhasilan prestasi olahraga negara lain seperti Australia dan China diantaranya karena persoalan ini.
5.      Sinkronisasi program antara; pemerintah, masyarakat, dan Swasta Kebijakan-kebijakan olahraga yang diambil oleh Pemerintah sangat diperlukan dan masih dominan untuk kelancaran proses di lapangan, seperti subsidi pembiayaan olahraga. Pihak masyarakat dan swasta sebagai pelaksana di lapangan, akan berlindung di balik kebijakan yang diputuskan pemerintah, sehingga dalam pelaksanaannya, pihak masyarakat atau swasta dapat berkerja tenang dan aman. Pihak ketiga pasar atau market, berkewajiban untuk memasyarakatkan atau mepopulerkan olahraga di masyarakat, agar sektor olahraga tidak hanya sebagai sector nonprofit tetapi juga profit dan dapat dijual ke masyarakat.
6.      Peran Perbankan Dalam Pengembangan Industri Olahraga
Dalam hal pembinaan, perbankan sebenarnya turut dapat berperan beberapa di antaranya memiliki klub olahraga sendiri. Contohnya Bank BNI dan Bank Sumut di cabang bola voli, serta aktif mengikuti kompetisi dan merekrut atlet-atlet berbakat. Sangat diharapkan, perbankan tidak hanya berperan sebagai sponsor event atau suatu klub yang biasanya dimaksudkan juga sebagai upaya promosi, tetapi bisa masuk lagi lebih dalam.
Industri olahraga bisa dibagi menjadi dua, yaitu olahraganya sendiri serta pendu­kungnya. Olahraganya bisa berupa event atau cabangnya, sedangkan pendukungnya cukup banyak. Beberapa faktor pendukungnya anta­ra lain media massa baik elektronik maupun cetak; peralatan olahraga, periklanan, jasa per­sewaan arena, pernak-pernik atau merchandi­se, dan masih banyak lagi. Jumlah bank yang beroperasi di Tanah Air pada saat ini sekitar 120. Kalau saja masing-masing mau masuk dan menjalankan perannya sesuai dengan ke­mampuan, kita optimistis dunia olahraga na­sional akan kembali bergairah (Suara Merdeka online 29-9-2012).

5.  Olahraga Sebagai Even Pariwisata
Gelaran even pariwisata menjadi bagian integral dan utama dari pengembangan pariwisata dan strategi pemasaran. Even pariwisata dapat digunakan untuk menggambarkan fenomena sosial dan ini bisa diartikan sebagai “pembangunan sistematis, perencanaan, pemasaran dan menjadi kilas balik sejarah masa lalu”. Tujuan dari even pariwisata dapat berupa:
1.      Untuk menciptakan citra yang menguntungkan bagi tujuan wisata pada daerah atau negara yang dituju.
2.      Untuk memperluas informasi budaya dan tradisi lokal.
3.      Untuk menyebarkan permintaan wisata yang lebih merata disuatu daerah.
4.      Untuk menarik pengunjung asing dan domestik.

Statistik menunjukkan, misalnya; bahwa di sektor segmen even pameran dapat meningkatkan kehadiran internasional yang kuat antara 15% dan 20%. Ini sangat bermanfaat terhadap sektor pariwisata lainnya seperti perhotelan dan transportasi. Banyak delegasi resmi dari berbagai negara kemudian menambahkan kegiatan lain seperti perjalanan bisnis ke liburan mini (Sunday Times, 28/2/1999: 16). Even dapat menjadi saluran yang paling umum di mana pengunjung memenuhi keinginan mereka untuk mencicipi makanan lokal dan tradisi, berpartisipasi dalam permainan, atau akan dihibur. Even lokal dan regional dapat memiliki keuntungan tambahan agar menjaga pasar pariwisata domestik aktif (Getz, 1991: 67). Even wisatawan atau pengunjung dapat didefinisikan sebagai mereka yang bepergian jauh dari rumah untuk bisnis, kesenangan, urusan pribadi atau tujuan lain (kecuali untuk pulang-pergi karena bekerja) dan yang menginap pada tujuan even (Masberg, 1998: 67).

6.  Produk Nyata
Even dapat dijelaskan dengan mengacu pada komponen nyata mereka. Getz (1991: 123) mengusulkan bahwa produk nyata dari suatu peristiwa yang benar-benar disampaikan kepada publik sebagai ‘façade’: ini adalah mekanisme yang dibuat sebagai bagian dari pengalaman pengunjung. Ada proses sinergis yang melibatkan produk-produk dan berwujud banyak untuk menciptakan suasana yang membuat even tersebut. Selanjutnya, acara biasanya dibuat sebagai sarana untuk mencapai beberapa tujuan yang lebih besar. Bahkan dalam kasus dimana peristiwa belum direncanakan dalam pikiran dengan tujuan pariwisata, cenderung menjadi faktor strategis setelah manajer bertujuan untuk memasarkan, mempromosikan atau paket even sebagai bagian dari daya tarik tujuan.

7.   Membina Hubungan Sosial
Sebuah konektor sosial yang kuat, olahraga dapat membawa orang bersama-sama bersama-sama, memperluas dan memperkuat hubungan sosial dan jaringan, orang-orang link ke sumber daya dan menyediakan mereka dengan rasa memiliki. Hubungan sosial adalah penentu dasar kesehatan tetapi sering kurang untuk orang yang terpinggirkan oleh kemiskinan, diskriminasi penyakit, atau konflik.
Olahraga juga dapat digunakan untuk mengurangi stigma sosial yang dialami oleh kelompok-kelompok marjinal, seperti penyandang cacat, orang dengan HIV dan AIDS, dan anak mantan kombatan. Dengan melibatkan orang-orang ini dalam kegiatan olahraga dengan anggota masyarakat lainnya, olahraga menciptakan ruang bersama dan pengalaman yang membantu memecah persepsi negatif dan memungkinkan orang untuk fokus pada apa yang mereka memiliki kesamaan. Ini merupakan langkah penting dalam meningkatkan individu-individu ‘konsep diri dan kesehatan emosional (R. Dodd & A. Cassels, 2006: 379-387).

8.  Olahraga Sebagai Platform (program) Untuk Mobilisasi Komunikasi, Pendidikan dan Sosial
Olahraga dapat memainkan peran berharga sebagai komunikasi, pendidikan dan kendaraan mobilisasi sosial. Hiburan banding olahraga tersebut, diperkuat dengan telekomunikasi global, telah membuatnya menjadi salah satu platform komunikasi yang paling kuat di dunia. Dengan melibatkan dan memobilisasi profil tinggi atlet elit dan klub olahraga profesional dan federasi, kekuatan ini komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan informasi kesehatan kritis dan pesan, untuk model perilaku gaya hidup sehat, dan untuk mengumpulkan sumber daya untuk inisiatif kesehatan. Di tingkat masyarakat, peristiwa olahraga yang populer menawarkan platform lokal untuk memberikan informasi kesehatan dan pendidikan, dan dapat berfungsi sebagai titik awal untuk mobilisasi masyarakat untuk mendukung promosi kesehatan, vaksinasi, dan pencegahan penyakit dan upaya pengendalian (Williams, 2006).

B.   Manajemen
1.      Manajemen
Menurut Harsuki (2013: 62) Manajemen secara umum di definisikan sebagai “kemampuan atau keterampian untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain”. Pendapat lain menerangkan bahwa menurut M Manullang (2006: 5) “manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan sumber daya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan’’, sedangkan menurut T Hani Handoko (2003: 8) manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber organisasi lainya agar mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan.
Berdasarkan pernyataan yang telah dikemukakan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa manajemen memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:
a.      Perencanaan (planning)
Menurut Siswanto (2005: 3) perencanaan Yaitu suatu proses dan rangkaian kegiatan untuk menetapkan tujuan terlebih dahulu pada suatu jangka waktu/periode tertentu serta tahapan/langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut.
Menurut Siswanto (2005: 9-10) Fungsi perencanaan sebenanrnya sudah termasuk didalamnya penetapan budget. Planning atau perencanaan akan lebih tepat jika dirumuskan sebagai penetapan tujuan, kebijakan (policy), prosedur, pendanaan (budget) dan program organisasi. Jadi, dengan fungsi planning termasuk budgetting yang dimaksudkan fungsi manajemen dalam menetapkan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi, menetapkan peraturan-peraturan dan pedoman-pedoman yang harus dituruti, dan menetapkan ikhtisar biaya yang diperlukan dan pemasukan uang yang diharapkan akan diperoleh dari rangkaian tindakan yang akan dilakukan.
b.      Pengorganisasian (organizing)
Menurut Siswanto (2005: 3) pengorganisasian yaitu suatu proses dan rangkaian kegiatan dalam pembagian kerja yang direncanakan untuk dislesaikan oleh anggota kelompok pekerjaan, penentuan hubungan pekerjaan yang baik diantara mereka, serta pemberian lingkungan dan fasilitas lingkungan yang kondusif. Sedangkan Menurut Djati Julitriarsa dan John suprihanto (2001:41) organizing adalah sekelompok manusia yang bekerja sama, dimana kerja sama tersebut direncanakan dalam bentuk struktur organisasi atau gambaran skematis tentang hubungan kerja, dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Menurut Harsuki (2012: 73) Organizing melibatkan penetapan hubungan antara aktivitas yang akan dilaksanakan, orang-orang yang akan melakukanya, dan faktor-faktor fisik yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

c.       Pengarahan
Manualling M (2001: 12) pengarahan merupakan salah satu fungsi manajemen untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percecokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubungkan, menyatukan, dan menyelaraskan pekerjaan bawahan, sehingga terdapat kerja sama yang terarah dalam usaha mencapa tujuan organisasi. Menurut Siswanto (2005: 3) pengarahan yaitu suatu rangkaian kegiatan untuk memberikan petunjuk atau instruksi dari seorang atasan kepada bawahan atau kepada orang yang diorganisasikan dalam kelompok formal dan untuk pencapaian tujuan bersama. Sedangkan menurut T Hani Handoko (2003: 9) pengarahan berarti bahwa para manajer mengarahkan, memimpin dan mempengaruhi para bawahan.

d.      Pengawasan (controlling)
Menurut Siswanto (2005: 4) pengendalian/pengawasan Yaitu suatu proses dan rangkaian kegiatan untuk mengusahakan agar suatu pekerjaan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan tahapan yang harus dilalui. Dengan demikian, apabila ada kegiatan yang tidak sesuai dengan rencana dan tahapan tersebut, diadakan tindakan perbaikan (corrective actions). Menurut T Hani Handoko (2003: 9) pengawasan berarti para manajer berupaya untuk menjamin bahwa organisasi bergerak ke arah tujuan-tujuanya. Berdasarkan pernyataan yang telah dikemukakan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa pengawaasan merupakan suatu kegiatan yang direncanakan agar tujuan dapat berjalan sesuai dengan keinginan anggota.

e.       Evaluasi (evaluating)
Menurut Harsuki (2012: 74) evaluasi adalah kegiatan untuk menganalisis “rencana yang disusun” dengan “hasil akhir yang dicapai”. Sedangkan menurut A.W. Widjaya (1978: 12) “evaluasi bertujuan mengetahui sampai mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai, kegiatan mana belum diselesaikan atau sedang dalam penyelesaian”

2.   Menyelenggarakan Even Olahraga
Untuk menggelar even olahraga, manajer even olahraga harus mampu secara efektif merencanakan acara tersebut dan dapat menjamin, serta memfasilitasi keterlibatan dan partisipasi dari semua elemen komponen yang terlibat. Selain itu, ia harus mengkoordinasikan seluruh proses menjelang acara aktual serta pasca-acara dan memahami kebutuhan pelanggan, memastikan bahwa acara ini menarik pemain dan penonton yang dalam kebutuhan mereka dapat pula memenuhi kebutuhan kebutuhan sponsor.
Manajer acara olahraga harus dapat memastikan bahwa acara ini diselenggarakan dengan cara sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan dari permainan, pemain, penonton dan sponsor, sehingga memastikan bahwa mereka semua berharap untuk pertandingan berikutnya. Akhirnya, ia harus mampu untuk terus memantau dan mengevaluasi acara tersebut dan membuat penyesuaian yang diperlukan untuk memecahkan masalah pada daerah penyelenggaraan even.
Sebuah tim manajemen harus memiliki kualitas untuk suksesnya even olahraga dengan beberapa kriteria sebagai berikut:

1.      Teliti-perhatian yang detil sangat penting.
2.      Kreatif dan inovatif-terbuka untuk perubahan.
3.      Energik dan antusias.
4.      Diplomatik tetapi juga persuasif dan kuat.
5.      Rajin, berkomitmen dan bekerja keras.
6.      Sikap positif ‘dapat melakukan’ dan diperlukan sewaktu-waktu.
7.      Lebih disukai berpengalaman dalam manajemen even olahraga.

Terlepas dari ukuran, semua peristiwa membutuhkan tingkat perencanaan tinggi, berbagai keterampilan dan banyak energi (Taman Rekreasi & Selandia Baru, 2002:2). Perencanaan yang cermat dan rinci sangat penting untuk menghindari dan atau menyelesaikan masalah potensial.
Manajer even olahraga harus benar-benar yakin bahwa dia mampu mengatur acara tertentu dalam pikiran, sebelum memulai acara yang digelar. Dia harus biasa mengatur permainan-untuk pertandingan liga contoh dari minggu ke minggu, atau acara khusus-misalnya; sebuah turnamen satu hari atau selama seminggu. Pada tingkat lokal, kejadian ini biasanya diselenggarakan untuk menghasilkan dana, pasar tim atau klub, dan atau untuk membuat keterlibatan masyarakat. Pada tingkat nasional atau internasional, peristiwa ini umumnya disusun untuk memenuhi persyaratan jenis yang sama tapi untuk alasan profesional lebih. Acara telah menjadi bisnis besar, sehingga nilai acara dari perspektif sponsor adalah semakin penting.

a.      Perencanaan
Keberhasilan suatu even permainan adalah untuk sebagian besar ditentukan oleh seberapa baik dan seberapa menyeluruh perencanaan telah dilakukan oleh penyelenggara dan panitia. Persiapan adalah kunci untuk setiap peristiwa yang sukses.
1)      Panitia
Hal ini sangat penting bagi manajer even olahraga untuk membentuk panitia. Para pemain kunci harus memiliki campuran keterampilan berikut: keuangan, pemasaran, operasional dan hukum. Melalui pendelegasian tugas akan lebih mudah untuk menyelesaikan pengaturan waktu dan ini sangat penting terutama dengan acara khusus. Panitia harus dibentuk jauh hari sebelum acara. Kerangka acuan bagi panitia penyelenggara harus dibentuk, misalnya siapa mereka bertanggung jawab, tugas mereka adalah untuk melakukan, tanggal laporan tertentu dan lain-lain. Hal ini diperlukan untuk membuat daftar nama dan alamat anggota komite dan memiliki status reguler pertemuan. Manajer even olahraga harus bekerja sama dengan panitia, masyarakat dan para pejabat. Tergantung pada tingkat acara, sebuah manajemen perusahaan even yang profesional dapat digunakan untuk mengatur acara tersebut.
2)      Menetapkan tujuan permainan
Tujuan adalah sesuatu yang ingin, anda capai di masa depan. Sebelumnya manager even olahraga tuan rumah dalam permainan apapun, ia harus yakin apa yang ingin ia capai. Bisa jadi hanya untuk memberikan latihan bagi para pemain, untuk mempromosikan niat baik antara tim yang berbeda atau, dalam kasus acara khusus, untuk mempromosikan klub, untuk menghasilkan dana atau meningkatkan kesadaran mereka dan penjualan program yang bernilai jual untuk sponsor.
3)      Memilih sebuah even
Identifikasi siapa target pasar anda untuk acara yang akan digelar. Ini adalah faktor penting dalam menentukan semua elemen lain dalam acara. Jika semua aspek dari acara tersebut tidak diminati penonton, gelaran acara bisa gagal total. Manajer even olahraga harus memberikan waktu yang cukup untuk mengatur acara tersebut (2 sampai 4 bulan) diperlukan untuk acara komunitas, sementara acara yang lebih besar memerlukan perencanaan selama lebih dari setahun. Dalam hal jadwal peristiwa itu, ia harus menghindari bentrokan dengan turnamen lainnya dan perlengkapan harus ia coba untuk memastikan bahwa itu cocok dengan sekolah, kalender provinsi, daerah atau nasional. Menetapkan atau memperkirakan jumlah pendatang atau tim dan mengalokasikan cukup waktu untuk menyelesaikan acara tersebut, memungkinkan untuk masalah yang tak terduga seperti kondisi cuaca buruk. Hal ini juga perlu untuk mempertimbangkan set-up dan waktu rincian yang diperlukan, jadwal partisipasi acara federasi olahraga, serta kedatangan dan waktu keberangkatan peserta. Hal lain yang tak kalah penting adalah kapasitas tempat, lokasi dan fasilitas. Ukuran tempat harus sesuai dengan akomodasi, oleh karenanya diperlukan persyaratan teknis kompetisi. Tempat tersebut harus dapat diakses oleh publik dari perspektif transportasi dan juga harus memiliki fasilitas yang relevan dengan skala gelaran acara tersebut, misalnya wudhu fasilitas, akses disadility, fasilitas katering, pusat penjualan merchandise.
4)      Menyiapkan checklist
1.      Daftar-pembanding berikut harus berisi semua kegiatan yang perlu diselesaikan dalam rangka untuk pertandingan yang akan diselenggarakan:
2.      Pesan stadion sesuai dengan jumlah peserta dan penonton, maka manajer even mengantisipasi tingkat kehadiran.
3.      Cobalah untuk melibatkan peran semua pemain, ini penting dalam komunitas gelaran even dalam acara tersebut.
4.      Pastikan tidak menyinggung setiap individu atau kelompok dalam komunitas tertentu (agama, politik, kepentingan atau budaya).
Undangan, pemberitahuan dan formulir pendaftaran untuk acara dan peserta harus dikirim jauh sebelum permainan yang digelar, sehingga dapat merencanakan untuk jumlah orang yang hadir.
5.      Jika diperlukan dan memungkinkan, cobalah untuk menarik media lokal, misalnya surat kabar komunitas lokal, radio, atau banner di rumah makan dan lain sebagainya, untuk mempromosikan acara tersebut.
6.      Pasar acara tersebut melalui iklan, menerapkan penjualan pribadi, promosi penjualan dan publisitas teknik penciptaan.
7.      Cobalah untuk mendapatkan bantuan dari badan olahraga lokal dan komite olahraga untuk membantu kepanitiaan dalam segi peralatan dan perencanaan, terutama bila itu adalah acara olahraga, maka yang pertama adalah pengorganisasian.
8.      Mengatur anggaran yang baik dari semua pendapatan mungkin dan biaya.
9.      Melakukan penelitian tentang bagaimana acara tersebut akan menguntungkan komunitas masyarakat dari ekonomi dan sosial, dan mengambil langkah untuk meminimalkan resiko.
10.  Masukan rencana pengelolaan lingkungan di tempat penyelenggaraan, misalnya; alokasi tempat sampah untuk sampah, sarana kebersihan instalasi sanitasi MCK, dll
11.  Kontraktor pihak ketiga merupakan bagian penting dari manajemen even olahraga. Kontrak ini meliputi: a) katering, b) scaffolding, c) peralatan sound, d) peralatan khusus teknis olahraga dan e) panggung dan pencahayaan.
12.  Selalu pastikan bahwa anda memiliki rencana darurat sebagai cadangan untuk rencana awal yang tidak bekerja, misalnya, memiliki cadangan wasit yang stand-by jika wasit yang ditugaskan berhalangan datang.
b.  Hari Permainan
Gelaran even olahraga seharusnya direncanakan dengan benar sesuai dengan checklist untuk segala sesuatu harus ada di tempat pertandingan pada hari permainan. Faktor yang paling penting untuk dipertimbangkan pada hari permainan adalah:
c.  Format Kompetisi
Format acara terlihat pada durasi acara, dan jadwal yang akan digunakan selama waktu itu.
d.   Kehormatan Tamu
Tamu kehormatan seperti sponsor dan pemimpin lokal sangat penting dan perhatian khusus harus diberikan untuk perawatan orang-orang ini (VIP). Adalah penting bahwa orang yang ditugaskan untuk mengurus orang-orang para pejabat, ini untuk mencegah rasa malu. Incumbent yang ditunjuk juga harus cukup terampil dalam hal protokol, misalnya cara di mana undangan ini tidak diatasi, pengaturan tempat duduk, dan lain-lain.
e.   Pemain
Pemain harus dibuat senyaman mungkin. Sebagai contoh, ruang ganti harus bersih dan transportasi seharusnya diatur jika diperlukan.
f.   Minuman
Untuk tamu terhormat dan pemain-melibatkan anggota klub atau keluarga dengan persiapan untuk acara lokal. Pastikan bahwa permintaan makanan terpenuhi, vegetarian, halal, dan lain-lain. Untuk penonton, memastikan bahwa produk yang dijual cukup tersedia untuk mengumpulkan cukup dana bagi klub serta berbagai pemenuhan kebutuhan penonton.
g.   Merchandising
Merchandising meliputi "perencanaan yang terlibat dalam pemasaran barang atau jasa yang tepat di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat dan dengan harga yang tepat", merchandising mengacu pada berbagai produk yang tersedia untuk dijual dan tampilan produk-produk tersebut sedemikian rupa sehingga merangsang minat dan membujuk pelanggan untuk melakukan pembelian melibatkan penjualan barang resmi, misalnya, topi, T-shirt, bola, dan lain-lain.
h.  Kewajiban
Apa yang terjadi jika seorang pemain atau penonton terluka selama pertandingan dan perawatan yang salah diberikan? Turco, Riley dan Swart (2002: 121) mengingatkan bahwa, sementara manager even olahraga tidak harus melindungi peserta atau penonton dari setiap resiko yang mungkin, sewajarnya harus diambil untuk melindungi mereka dari potensi bahaya yang paling serius. Dengan demikian manajer even olahraga harus melengkapi penanganan medis darurat atau masalah keamanan yang mungkin terjadi dalam sebuah pertemuan publik yang besar.
i.  Surat persetujuan dan ganti rugi
Persetujuan harus diperoleh dari orang tua atau wali dari anak usia di bawah umur dan bentuk ganti rugi dari peserta dewasa. Pemberitahuan yang jelas harus ditempatkan di pintu masuk stadion menunjukkan ganti rugi dari biaya yang timbul dari cedera dan kehilangan atau kerusakan harta benda dari penonton dan pemain.
j.  Keselamatan dan keamanan
Manajer even olahraga harus melibatkan layanan lokal (polisi, layanan ambulans) untuk membantu dengan hal ini. Maka dapat ditunjuk seorang wakil panitia yang berperan mengkoordinasikan keselamatan dan keamanan acara, hal ini berfungsi untuk menjamin efisiensi penyelenggaraan yang berkaitan dengan hal-hal darurat. Sebuah rencana manajemen bencana juga harus diletakkan di tempat, dengan juru bicara yang ditunjuk untuk menangani media jika terjadi bencana besar yang terjadi pada acara Anda.
k.  Closing-down
Manajer even olahraga harus mengatur upacara penutupan untuk mengakui kinerja tim atau peserta. Semua sponsor dan tamu VIP lainnya yang terlibat harus berterima kasih dengan cara komunikasi tertulis atau lisan sesegera mungkin setelah hari itu.
l.  Evaluasi pasca pertandingan
Manajer even olahraga harus membuat checklist perencanaan untuk memastikan tugas-tugas yang dilakukan apakah tidak benar atau tidak sama sekali dan mencoba untuk memperbaiki untuk referensi di masa mendatang. Selain itu, ia harus berusaha untuk membangun antara pemain dan penonton dalam aspek yang dapat diperbaiki, sehingga bisa lebih baik ketika mengorganisir pertandingan dimasa depan.
Adalah penting untuk mencatat semua kejadian, baik dan buruk, untuk merumuskan laporan evaluasi komprehensif. Sebuah studi dampak resmi yang dilakukan oleh pihak independen juga dapat membantu dalam perbaikan organisasi dari kejadian masa depan. Laporan ini penting bagi sponsor, federasi dan semua pemain yang berperan, sebagai laporan untuk mengkonfirmasi keberhasilan atau kegagalan acara.

3.   Keselamatan, keamanan dan implikasi manajemen resiko
Manajemen resiko menjadi semakin penting bagi keberhasilan dan kelangsungan hidup acara apapun (Turco et al, 2002: 122). Ini mencakup proses mengantisipasi, mencegah atau meminimalkan potensi biaya, kerugian atau masalah untuk aktivitas tersebut. Tidak peduli seberapa besar dan kecil, perhatian yang diberikan dengan manajemen risiko, pencegahan kerugian dan keselamatan menjadi perhatian penting ketika penjamin asuransi prospektif, investor, sponsor dan penonton mengevaluasi manfaat dari partisipasi mereka (Rossouw, 2000: 418).
Levine (2002: 122-123) mencatat bahwa rencana manajemen resiko yang komprehensif, akan diambil pertimbangan berikut ke dalam:
1.      Identifikasi semua potensi resiko (analisis resiko).
2.      Mengurangi resiko dengan melakukan program pelatihan, program keselamatan dan prosedur inspeksi.
3.      Membentuk dana pelindung untuk resiko yang tidak dapat dihilangkan.
4.      Menerapkan rencana manajemen resiko.
Rossouw (2000: 418) melaporkan bahwa rencana tersebut tidak hanya akan melibatkan mereka yang merencanakan metode. Tetapi juga membantu untuk memastikan pertandingan olahraga yang aman tetapi juga akan mencakup komentar dari penerima manfaat dalam perencanaan: peserta dan penonton serta sponsor dan tamu lain . Melibatkan kelompok-kelompok kunci dalam managerial even olahraga sebagai perencanaan untuk memastikan bahwa mereka telah dianggap sebagai bahaya keamanan sebanyak mungkin dan bahwa rencana terakhir yang praktis dapat dengan mudah digunakan oleh peserta dan penonton.
Poin umum berikut disediakan oleh Rossouw (2000: 419) harus dipertimbangkan ketika berhadapan dengan rencana pengelolaan resiko:
a.       Gunakan fokus kelompok yang terdiri dari staf acara untuk membantu anda mengidentifikasi berbagai potensi ancaman dan rencana pengelolaan yang efisien.
b.      Menyediakan efektif lisan, komunikasi visual dan fisik sehingga karyawan, penonton dan peserta akan tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.
c.       Gunakan salah satu pusat kontrol sebagai pusat layanan medis darurat sehingga miskomunikasi tidak akan terjadi dan garis radio yang tersisa terbuka. Menulis setiap laporan setelah kejadian untuk litigasi dan tujuan evaluasi.
d.      Melibatkan kelompok-kelompok eksternal seperti atlet dan penonton dalam proses pemeriksaan keamanan untuk memastikan penerimaan keseluruhan dan penggunaan.

Langkah-langkah seperti pencegahan ditandai dengan jelas, ada pelatihan staf dalam hal kebijakan alkohol, rokok, narkotika. Penting untuk mengakui bahwa rencana manajemen resiko tidak membebaskan manajer even olahraga dari semua tanggung jawab dan kewajiban mengenai peristiwa yang terjadi (Turco et al, 2002: 123). Jika manajer even olahraga tidak mengatur acara dengan cara yang aman dan bertanggung jawab, mungkin akan ia bertanggung jawab atas tindak anarkis yang terjadi dan berakibat banyak luka atau masalah yang mungkin timbul (Pike Masteralexis, Barr & Humms, 1998: 334). Kesimpulannya, manajer even olahraga harus mengakui pentingnya menangani masalah terutama manajemen resiko terkait dengan hukum dan pentelenggaraan acara.

C.   Arah dan Perioritas Pengembangan Indusri Olahraga Fokus Industri
       Mikro Keolahragaan

Beberapa kategori yang menjadi fokus pengembangan industri mikro keolahragaan antara lain:
a.       Produk pakaian dan alat-alat olahraga
Pengembangan produk kreatif pakaian olahraga dan berbagai peralatan olahraga pendidikan, olahraga rekreasi dan olahraga prestasi yang berstandar nasional dan internasional. Produk pakaian dan peralatan olahraga ini adalah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, pemusatan latihan atlet, klub-klub olahraga, kebutuhan masyarakat, kebutuhan pasar lokal, domestik, dan internasional.
b.      Event-event kejuaraan olahraga
Mengembangkan berbagai event kejuaraan olahraga pada kategori olympic games, berbagai kejuaraan/kompetisi, dan festival olahraga rekreasi termasuk olahraga masyarakat dan olahraga tradisional, olahraga ekstrim, termasuk adventure sport, yang diintergrasikan dengan gelar kesenian, kebudayaan tradisional, kesenian kontemporer, potensi sumber daya alam, dan promosi pariwisata.
c.       Pemasaran industri olahraga
Pengembangan konsultansi olahraga, penumbuhan klub-klub olahraga, penumbuhan media informasi dan komunikasi olahraga, memacu kegiatan promosi, dan pemasaran industri olahraga di dalam dan luar negeri.
d.      Meningkatkan kapasitas kemampuan pelaku industri olahraga
Dari perspektif ekonomi, pengembangan industri olahraga diarahkan untuk mempercepat penanggulangan pengangguran, membuka peluang kesempatan kerja dan usaha bagi wirausaha muda di pedesaan dan perkotaan.





























BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.      Industri olahraga adalah “setiap produk, barang, servis, tempat, orang-orang dengan pemikiran yang ditawarkan pada publik berkaitan dengan olahraga.
2.      Beberapa permasalahan industri olahraga; 1) Masalah permodalan, 2) Lemah dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar, 3) Keterbatasan pemanfaatan dan penguasaan teknologi. 4) Masalah strategi pemasaran produk merupakan salah satu kendala besar bagi industri olahraga yang kecil untuk masuk pasar bebas, 5) Lemah dalam jaringan usaha dan kerja sama usaha.
3.      Terdapat tiga segmen industri olahraga yaitu: 1) Sport performance, 2) Sport Production, 3) Sport Promotion.
4.      Re-orientasi program strategi industri olahraga: a. Pengembangan budaya olahraga, b. Persaingan olahraga regional dan internasional, c. Manajemen olahraga nasional, d. Sarana prasarana olahraga serta penerapan riset dan iptek, e. Sinkronisasi program antara; pemerintah, masyarakat, dan swasta, f. Peran perbankan dalam pengembangan industri olahraga.
5.      Pertumbuhan kegiatan olahraga yang menjadi dasar pendirian uasaha pariwisata, rekreasi dan olahraga sebagai bagian integral yang utama dari pengembangan pariwisata dan strategi pemasaran. Pertumbuhan pariwisata tergantung pada gelaran acara besar untuk kualitas manajemen dan pengetahuan manajer eksekutif. Seorang manajer even olahraga harus memiliki pelatihan yang lengkap di sektor pariwisata serta di sektor olahraga, dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
6.      Fokus pengembangan industri mikro keolahragaan antara lain: a. Produk pakaian dan alat-alat olahraga, b. Event-event kejuaraan olahraga, c. Pemasaran industri olahraga, d. Meningkatkan kapasitas kemampuan pelaku industri olahraga.
7.      Dari penelitian yang telah dilaksanakan; industri olahraga secara faktual sekedar memberikan lapangan pekerjaan sampingan bagi sebagian masyarakat, namun belum berdampak secara signifikans bagi pengentasan kemiskinan dan penanggulangan masalah pengangguran.




























DAFTAR PUSTAKA

A.W. Widjaya. (1987). Perencanaan Sebagai Fungsi Manajemen. Jakarta: Radar
Jaya Offest.

Farida M. 2011. Pemberdayaan Industri Olahraga Dalam Menghadapi Pasar
Bebas (Online), (http://staff. uny.ac.id/sites/default/files/131808341/Pro­ceeding%20SEMNAS-Pemberdayaan%20Indus­tri%20Olahraga%20Dalam%20Menghadapi%20Pasar%20Bebas.pdf, diakses 13 Oktober 2012).

Getz, D. Special events. In Managing Tourism, ed S Mede­lik. pp. 67,123. Oxford:
Butterworth-Heinemann, 1991.

Harsuki .(2012). Pengantar Manajemen Olahraga. Jakarta: Rajawali Pers.
_ _ _ _ _.(2013). Pengantar Manajemen Olahraga. Jakarta: Rajawali Pers.
Hitt, Michael A., at.all, Strategic Management: Competitive­ness and
Globalization. Texas: West Publishing Company.

Ibnu. 2011. Visi, Misi, Sasaran dan Program Kadin Untuk Olahraga Nasional
(online), (http://sport.ghiboo. com/visi-misi-sasaran-dan-program-kadin-un­tuk-olahraga-nasional, diakses 13 Oktober 2012).

Julitriarsa Djati dan John Suprihanto. (2001). Manajemen Umum sebuah
Pengantar.Yogyakarta. BPFE.

Kristiyanto, Agus. 2011. Penguatan Kebijakan Publik Usaha Pengentasan
Kemiskinan Melalui Pengembangan Industri Mikro Olahraga. Jurnal Ekonomi Pem­bangunan, Volume 12, Nomor 2, Desember 2011, hlm.200-211

Lampiran Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Jakarta: Sinar Grafika, 2008.

Loewe, M. The year the Arts festival crossed over. Daily Dispatch, pp. 8, 122-
123, 16 July 2002.

Manullang M. (2006). Dasar-Dasar Manajemen. Yogyakarta. Gadjah Mada
University Press.

Masberg, BA. Defining the tourist: is it possible? Journal of Travel Research, vol. 37, p.p. 67-70, August 1998.

Nuryadi. 2010. Industri Olahraga (Sport Industry) (Online),
(http://ebookbrowse.com/gdoc.php?id=36399 8434&url=4ad8305a5fa81d9f5811a731c2530ab2, diakses 13 Oktober 2012).

Parks & Recreation New Zealand. Running Sport: Event Management. 2002. http://www.sparc.org.nz [25 April 2008].
Pike Masteralexis, L, Barr, CA & Humms, MA. Principles and Practice of Sport Management. Gaithersburg, MD: Aspen. pp. 334, 1998.

Pitts B.G, Fielding, L.W., and Miller (1994). Industry Seg­mentation Theory and
Sport Industry. Developing a Spoort Industry Segmentation Model Sport Mar­keting Quarterly. 3. 1994. (Morgantown, WV: Tit­ness Information Technologi, Inc).
Text Box: 23
 

R. Dodd & A. Cassels, “Centennial Review: Health Devel­opment and the
Millennium Development Goals” (2006) 100:5-6 Annals of Tropical
Medicine & Parasi­tology at 379-387.

Rossouw, J. Event sponsorship; Event marketing and com­munication; Sports
event management. In Event Management: a professional and developmental approach, pp. 418- 419, 2000.

R.O. Williams, “The Contribution of Science in Preventing the Diseases of
Inactivity in Developing Countries- Lifelong Sport and Exercise as
Medicine” (Outline of presentation delivered at 11th World Sport for All Congress in Havana, Cuba 2006) [unpub­lished]. [Williams, “Contribution”].

Siswanto. (2005). Pengantar Manajemen. Jakarta: PT Bumi aksara.
_ _ _ _ _. (2008). Pengantar Manajemen. Jakarta, PT.Bumi Aksara.
T Hani Handoko. (2003). Manajemen. Yogyakarta. BPFE-YOGYAKARTA.

Turco, DM, Riley R & Swart, K. Sport Tourism. Morgan­town , pp. 121-123, WV:
Fitness Information Tech­nology, 2002.

Undang-undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2005. Sistem Keolahragaan Nasional. Jakarta

Share this

0 Comment to "Industri Olahraga dari Manajemen Event"

Posting Komentar